Langsung ke konten utama

Postingan

Tari Abyor

  Tari Abyor merupakan sebuah karya tari yang menceritakan tentang kesenangan seorang remaja putri yang ingin menampakkan diri sebagai pusat perhatian. Oleh karenanya, dia menunjukkan sisi ke-glamour-an yang dia miliki, ditunjang dengan gemerlapnya busana yang dia kenakan. Usia remaja adalah usia rentan yang penuh coba. Setiap remaja seakan merasa bebas dari penjara anak-anak dan mulai ingin mencicipi segala keindahan dunia. Untung Muljono dan Rudiatin menggambarkan kesenangan remaja putri terhadap gemerlapnya busana dalam lenggak-lenggok gemulai penari putri.  Balutan kostum dengan nuansa emas membuat penari nampak 'abyor' dalam acara yang digelar di malam hari. Dalam busana yang dikenakan, Bapak Edi Suwito memilih mahkota bernuansa tanah Lampung untuk dikenakan sang Penari. Mahkota Siger memang nampak menambah kemegahan busaha yang dikenakan.
Postingan terbaru

Tarian Srimpi

  Srimpi atau Serimpi adalah jenis tari Jawa klasik dari tradisi keraton Kesultanan Mataram dan dilanjutkan pelestarian serta pengembangan sampai sekarang oleh empat istana pewarisnya di Surakarta dan Yogyakarta Sejak dari zaman kuno, tari Srimpi sudah memiliki kedudukan yang istimewa di keraton-keraton Jawa dan tidak dapat disamakan dengan tari pentas yang lain karena sifatnya yang sakral. Dahulu tari ini hanya boleh dipentaskan oleh orang-orang yang dipilih keraton.Srimpi memiliki tingkat kesakralan yang sama dengan pusaka atau benda-benda yang melambang kekuasaan raja yang berasal dari zaman Jawa Hindu, meskipun sifatnya tidak sesakral Tari Bedhaya

Tarian Bondan

  Tari Bondan ini berasal dari Surakarta,Jawa Tengah.Tarian ini menceritakan bahwa kasih sayang ibu kepada anaknya melalui menggendong bayi dengan payung terbuka dengan hati-hati dan perhatian. Menurut legenda yang berkembang di Lereng barat Gunung Merapi (Kecamatan Dukun, Salam, Sawangan), tari Bondan adalah tari untuk mengingat sosok Nyai Bondan Kejawan, pengasuh Dewi Sri, Ibu kesuburan dalam mitologi Jawa. Bayi yang digendong penari melambangkan Dewi Sri yang selepas tercipta dari telur yang dikulum naga Antaboga, lalu dititipkan pada keluarga petani, Kyai dan Nyai Bondan Kejawan.

Tarian Gambyong

  Tarian Gambyong Tari tradisional Jawa Tengah yang pertama adalah tari Gambyong. Awalnya menjadi populer dari Surakarta. Banyak orang yang tidak mengetahui bahwa tarian tradisional dari Jawa Tengah ini merupakan tarian rakyat. Tari Gambyong biasanya ditampilkan pada musim tanam dan panen padi sebagai penghormatan kepada Dewi Sri. Tarian tradisional ini biasanya dibawakan oleh dua wanita muda yang mengenakan gaun berwarna hijau. Busana ini dipadukan dengan celana berdasi, selendang panjang berwarna kuning yang dililitkan di pinggang dan hiasan kepala.

Tarian Beksan wireng

 Tarian Beksan Wireng Ingin mengenalkan anak muda Indonesia dengan kebudayaan Jawa lewat sebuah tarian? Tari Beksan Wireng adalah salah satunya. Padahal, tarian ini konon sudah ada sejak abad ke-12. Tarian tradisional Jawa Tengahan ini berasal dari keraton Jawa yang dilestarikan di Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran. Menari adalah tentang berperang. Beksan Wireng dibuat saat Amiluhur menjadi raja. Amiluhur ingin semua orang bisa berjuang mempertahankan kerajaannya, maka terciptalah tarian ini. Untuk menghormati dan mengabadikannya, banyak penari Jawa Tengah mencoba menampilkan tarian seperti Beksan Wireng ini.